CARA MENUMBUHKAN DISIPLIN POSITIF SEJAK DINI

Berapa Biaya Sekolah di TK Alifa Kids Bandung
31/01/2017
Jebakan dalam Mendidik Anak (Renungan untuk Orang Tua)
28/02/2017

Ayah Bunda,

Mungkin jika mendengar kata ‘disiplin’ yang sering terbayangkan adalah sikap keras, nada suara yang tinggi, raut wajah yang kaku dan menakutkan atau hukuman fisik.

Mari sama-sama kita sepakati tentang makna disiplin yang sebenarnya. Dari asal katanya, disiplin bermakna “belajar”, bisa pula bermakna “murid”. Nah, Disiplin tidak ada kaitannya dengan tindak kekerasan ataupun hukuman seperti yang sering dipahami kebanyakan orang. Salah kaprah tentang disiplin ini tidak hanya terjadi di sekolah namun juga di rumah.

Sejatinya, disiplin merupakan cara-cara yang dipilih dalam proses belajar seseorang. Sehingga dengan menempuh cara-cara tersebut diharapkan ia memiliki kompetensi diri, sesuatu yang melekat di dalam dirinya sampai kapan pun.

Disiplin Positif | TK di Pekanbaru | TK di Bandung | TK di Palembang | 4

Disiplin positif berarti pendidik baik guru maupun orang tua sepakat untuk memilih cara-cara yang positif yang menekankan pada perilaku positif dengan mengajarkan dan menguatkan perilaku baik yang anak lakukan.

Disiplin positif tidak mengenal hukuman maupun iming-iming, tidak pula mengenal proses mendidik yang penuh kekerasan, pemaksaan ataupun pembiaran. Karena proses tersebut hanya akan mengasah motivasi eksternal diri. Anak hanya mau berbuat jika ditakut-takuti atau jika diiming-imingi sehingga melahirkan candu kepada faktor eksternal.

Proses mendidik seorang anak bertujuan untuk tumbuh dan kokohnya motivasi internal diri. Anak memiliki kesadaran yang kuat dari dalam diri untuk bersikap. Sehingga tumbuh sosok tangguh yang bisa menghadapi persoalan dan tantangan di perjalanan hidupnya.

Disiplin Positif | TK di Pekanbaru | TK di Bandung | TK di Palembang

Disiplin positif mengenal Apresiasi dan Konsekuensi.

1. Apresiasi

Kebiasaan yang sering keliru dilakukan oleh pendidik baik itu guru maupun orang tua adalah memuji berlebihan dan di luar konteks, seringnya hanya terpaku pada hasil yang dilakukan anak. Tak heran jika reward atau lomba dan piala-piala menjadi andalan.

Apresiasi ditujukan kepada kesediaan anak menjalani proses/ upaya-upaya, bukan memuji hasil. Bentuk pujiannya pun spesifik, tidak sekedar berkata ‘wah, kamu hebat’.

Apreasiasi tidak pula memiliki pesan terselubung atau karena ada maunya. Memberikan pujian dalam konteks kepuasan internal anak, bukan berkata ‘nah gitu donk, bangun pagi biar mama ga repot’, namun katakanlah ‘Nah, bangun pagi membuatmu tidak terburu-buru ya, Nak… jadi tidak terlambat ke sekolah’.

Disiplin Positif | TK di Pekanbaru | TK di Bandung | TK di Palembang | 3

2. Konsekuensi

Bagaimana jika anak melakukan perbuatan yang tidak semestinya…?

Kesadaran penting yang perlu dimiliki oleh pendidik baik itu orang tua maupun guru bahwa ketika anak melakukan kesalahan bukanlah didasari karena keinginan berbuat keliru, namun disebabkan belum mampunya ia melakukan dengan cara yang lebih baik. Jika anak belum mampu, tidakkah semestinya kita membantu agar ia mampu…?

 

Dalam memberikan konsekuensi perlu diperhatikan :

a. Pastikan konsekuensi tersebut memang berhubungan langsung dengan kesalahannya. Saat menumpahkan air maka konsekuensinya adalah memintanya untuk mengeringkan bekas tumpahan tersebut.

b. Pastikan konsekuensi itu masuk di akal dan sesuai dengan usianya. Pada proses ini yang diharapkan adalah keterlibatannya menyelesaikan persoalan meski tidak tuntas 100%.

c. Menjaga harga dirinya. Konsekuensi tidak boleh merusak dan mempermalukan anak, baik di hadapan orang lain ataupun tidak. Tidak memberikan label “kamu ceroboh sih’, misalnya.

Tujuan UTAMA dari konsekuensi adalah memberikan pengalaman belajar. Anak diharapkan memahami dan menyadari akibat perbuatannya dan langkah yang perlu ia tempuh. Menumbuhkan disiplin berarti bersedia memberi ruang kepada anak untuk belajar termasuk dari kesalahan-kesalahan.

Disiplin Positif | TK di Pekanbaru | TK di Bandung | TK di Palembang |2

Ayah Bunda,

Disiplin positif hanya bisa berjalan jika sebagai pendidik kita setuju dan mampu memberikan perhatian lebih pada saat Ananda berperilaku baik. Seringnya kita hanya hadir saat ia berbuat salah. Mengomentari perilaku-perilaku yang belum baik, sementara abai saat ia menunjukan upaya-upaya.

Tanpa disiplin positif, rumah dan sekolah menjadi tempat pertama seorang anak mengalami kekerasan baik fisik maupun psikis. Rumah dan sekolah menjadi tempat rusaknya harga diri anak bahkan anak pada akhirnya meyakini dirinya sebagai pribadi yang tidak mampu, pribadi yang memang bermasalah. Hal ini tanpa sadar berasal dari sikap dan ucapan orang tua maupun guru.

 

Ayah Bunda,

Yuk, bersama-sama dengan penuh kesadaran kita pilih cara-cara terbaik alam mendidik. Cara-cara yang menumbuh suburkan motivasi internal diri anak. Jika dahulu mungkin sebagian kita dididik dengan disiplin yang negatif, maka hari ini kita putus mata rantai itu, agar generasi kedepannya menjadi jiwa yang lebih baik.

 

Selamat menjalankan proses disiplin di keluarga masing-masing yha, Ayah Bunda…

InsyaAllah pada tulisan berikutnya akan kita bahas tentang tips komunikasi dan membuat kesepakatan dalam keluarga.

=====

Tips Parenting | Mendidik Anak | Disiplin Positif | TK di Pekanbaru | TK di Bandung | TK di Palembang

Comments

comments

Comments are closed.