Emosi Orang Tua VS Mental Anak

Makna Pelukan bagi Ananda
11/04/2014
Menasehati Anak: dengan Dongeng vs Hukuman
17/04/2014

Ayah Bunda….
Mungkin sering mendengarkan bahwa konflik dalam rumahtangga adalah bumbu pernikahan. Kita boleh saja setuju dengan nasehat ini, namun coba dibayangkan jika “bumbu” tadi kebanyakan, bukannya sebagai penikmat malah akhirnya pernikahan bisa menjadi awal dari perjalanan pahit seseorang.

Apakah mungkin dua orang yang memutuskan menikah memiliki niat untuk saling menyakiti…? Rasanya mustahil ya, Ayah Bunda… Walau pada faktanya malah dua orang yang saling mencintai itu justru kerap saling menyakiti, menahan emosi lalu tiba-tiba meledak sendiri.

Sama-sama kita amati yuk, apa sih yang menjadi akar dari permasalahan konflik di rumahtangga? Kita coba bagi menjadi 2 hal :
1. Latarbelakang/ emosi masa lalu
2. Tidak mengenal diri sendiri apalagi mengenal pasangan

Kita bahas satu per satu ya, Ayah Bunda…
1. Seseorang yang sering diperlakukan tidak baik namun ia tidak mampu melawan atau membela diri, saat dewasa ia akan mencari pelepasan amarah tadi, seringnya kepada anak dan pasangan, karena mereka adalah lingkungan terdekat.

Mungkin dulu ia sering dibanding-bandingkan dalam keluarganya. Jika ia dianggap paling tidak baik maka kelak dewasa ia akan berusaha mencari pengakuan, sayangnya dengan cara-cara yang tidak baik. Jika ia sosok yang sering dibanggakan secara berlebihan maka kelak dewasa ia akan tertekan dan tidak sanggup menerima kekalahan atau kesalahan.

Sebagai orang tua, tentunya kita tak ingin hal ini terjadi pada anak-anak kita kelak. Dibutuhkan kecerdasan dalam mendidik Ananda. Membesarkan dengan kasih sayang adalah landasannya, dan pastikan bahwa ia turut merasakan kasih sayang itu. Ditulisan kami sebelumnya membahas makna pelukan sebagai bentuk ungkapan kasih sayang.

2. Seberapa penting mengenal diri sendiri dan pasangan agar rumahtangga bahagia..? Jawabnya Sangat Penting. Agar masing-masing pribadi bisa mawas diri terhadap kelemahannya, dan memaksimalkan kekuatan diri agar tumbuh kepercayaan diri sendiri, pandai menghargai diri sendiri dan orang lain.

Ayah Bunda, Tuhan mengutus kita ke buminya tentu telah dilengkapi dengan “bekal” yang lebih dari cukup untuk membuat kita sukses, bahagia, dan bermanfaat bagi banyak orang. Namun sayangnya tak banyak yang menyadari modal ini. Wajar… karena sebagian besar kita dibesarkan dengan cara yang biasa. Ayah Edy pernah berungkap bahwa “jika ingin menjadi orang yang luar biasa, tak mungkin dengan cara yang biasa”.

Cukup banyak buku mengenai personality plus yang ayah bunda bisa baca, agar masing-masing diri dapat mengenali kekuatan dan kelemahannya.

Jika pasangan tipe A tentunya ada cara A agar ia merasa dihargai, ada teknik A agar ia merasa didukung. Seringnya kita salah memperlakukan pasangan yang pada akhirnya timbul salah paham hingga konflik, baik yang dipendam atau pun yang meledak, ini sama berbahayanya…

Di TK Alifa Kids, Anak-anak diberikan tes 10 sidik jari, untuk mengenal potensi, kekuatan dan kelemahan yang perlu diwaspadai. Kami percaya, tes ini (STIFIn) yang membaca seseorang secara genetik dapat membantu orang tua dalam memetakan Ananda. Orang tua pun banyak yang akhirnya ikut tes ini, mereka akhirnya menemukan adanya perbedaan masing-masing manusia yang tak lagi dianggap sebagai konflik namun sebagai berkah saling melengkapi.

Ayah Bunda,
Emosi pada orang tua menjadi pijakan bagi pertumbuhan anak. Saat ia dewasa, mungkin ia tiba-tiba ketakutan atau membenci pada sosok tertentu yang ia temukan pada diri orang lain, jika dirunut bisa jadi itu adalah sosok ayah yang pernah mengecewakan ibu, atau sosok ibu yang terlalu lemah, hati kecilnya berontak namun saat itu ia masih anak-anak.

Yuk Ayah Bunda, bersama-sama kita jaga emosi terhadap pasangan. Ananda yang diam itu bukan tidak tahu, mereka mampu mendeteksi ketidakberesan dalam emosi orang tuanya, ia bahkan bisa merasakan sejak ia didalam kandungan.

Comments

comments

Comments are closed.