HAL YANG DAPAT MERUSAK MENTAL & MASA DEPAN ANAK

MENCINTAI ANAK TANPA SYARAT
03/04/2015
“Make My Own Pie”
04/05/2015

Ayah Bunda,

Mungkin selama ini tidak pernah terpikirkan bagaimana sebuah perlakuan sederhana namun keliru justru dapat merusak mental dan masa depan ananda.

Perlakuan yang seringnya kita anggap sebagai luapan kasih sayang kepada anak malah berujung negatif bagi ananda.

Apakah perlakuan sederhana dan sepele namun merusak itu…?

“Cara dan Pola Makan Anak yang Salah”

 

makan sendiri | TK di Pekanbaru | TK di Palembang | web

 

Bagaimana urusan makan ini bisa berpengaruh sedemikian pada anak…?

Ayah Bunda,

Ritual makan bukan hanya sekedar mengisi perut agar manusia dapat melangsungkan hidup. Tapi ritual makan menyimpan banyak pemaknaan dalam membangun diri seseorang.

Anak yang kerap disuapi, tak memiliki kebebasan melatih diri, kemampuan koordinasi tangan, mulut, mata dan fisik lainnya, juga akan berpeluang memiliki ‘kelumpuhan mental’.

Kelumpuhan yang dimaksud adalah sang anak sulit untuk memiliki kemampuan berjuang. Karena sehari-hari hanya membuka mulut lalu disuapi, tanpa diberi waktu dan kesempatan untuk dirinya memilih dan bertindak sendiri.

 

Kondisi seperti ini, terus berulang hingga beberapa tahun (bahkan hingga usia sekolah dasar), akan menghasilkan anak yang ‘melempem’.

Jika sudah seperti ini, lalu orang tua akan kembali panik “koq anak saya pasif amat yha?”, atau “kamu gimana sih, kreatif donkkk… usaha donkkk… mikir donkkkk…”, dan bentakan-bentakan lainnya.

Padahal apa yang terjadi pada diri anak adalah murni hasil karya orang tua yang keliru dalam memperlakukan anak.

 

Mungkin orang tua enggan melihat ruang makannya berantakan, tak sabaran menunggu anak suap sendiri, tak percaya apakah anak mampu, khawatir jika makanannya tidak dihabiskan.

Demi memuaskan diri, segala daya upaya dilakukan, anak dibawa makan berkeliling, diajak makan sambil nonton, dan cara-cara lainnya yang justru mematikan kekuatan mental anak.

Anak jadi sulit mandiri, anak tak diberi waktu untuk melatih dirinya berjuang sendiri.

 

Ini sering dilakukan oleh berbagai tipe orang tua:

a. Ibu bekerja, karena rasa bersalah telah meninggalkan ananda karena bekerja, lalu sedemikian menyuapi anaknya makan. Padahal bekerja bukanlah perbuatan yang salah sehingga tidak diperlukan rasa bersalah.

b. Ibu rumahtangga, karena tak mau dicap tak mengurusi anak, terobsesi menyuapi anak agar gemuk dan dianggap sehat, lalu panik saat anak tak mau makan.

 

Ayah Bunda,

Cobalah perhatikan generasi sekarang, baru bekerja lalu bosan, diberi tanggungjawab sedikit lalu mengeluh, bertemu sedikit tantangan lalu ngomel dan kalah.

Yaa… mereka adalah generasi-generasi yang serba disuapkan, dan sayangnya pola ini masih terus berlanjut hingga saat ini.

Ayah Bunda juga dapat melihat di sekeliling, orang-orang yang lemah kemauan diri, tak tangguh dan tak mandiri, coba minta ia mengingat masa kecilnya, apakah diberi kesempatan mandiri ataukah ditimang-timang bak benda rapuh…?

 

Ayah Bunda,

Semoga mulai saat ini Ananda diberikan kemerdekaan bertindak, berlatih dan membangun mentalnya agar tangguh dan mandiri di masa depan.

Jika Ayah Bunda tak sanggup membayar prosesnya dengan kesabaran, maka kelak akan dibayar dengan air mata penyesalan saat melihat Ananda tak jadi siapa-siapa dan tak mampu apa-apa. Karena selalu diperlakukan seperti manusia lemah yang mudah pecah, tergores dan hancur.

Anak-anak adalah manusia-manusia tangguh, tugas orang tua dan lingkungan adalah memunculkan kekuatan diri mereka.

 

*Pemahaman ini kami dapatkan saat mengikuti training bersama Kak Poetri Soehendro

Mohon dibagikan jika bermanfaat yha, Ayah Bunda… 🙂

 

=====

Tips Parenting | TK di Pekanbaru | TK di Palembang

 

Comments

comments

Comments are closed.