Jebakan dalam Mendidik Anak (Renungan untuk Orang Tua)

CARA MENUMBUHKAN DISIPLIN POSITIF SEJAK DINI
07/02/2017
BUKTI NYATA SEKOLAH YANG BERKOMITMEN
06/03/2017

Ayah Bunda,

Mungkin sebagian kita sudah membekali diri dalam mendidik Ananda dengan cara membaca buku dan mengikuti berbagai pertemuan parenting. Hal ini adalah sebuah upaya besar yang patut diapresiasi karena telah tumbuh kesadaran bahwa mendidik anak tak bisa sekedar mengandalkan naluri semata. Diperlukan pengetahuan dan pemahaman yang benar agar mampu memilih dan memilah tindakan sebagai orang tua.

Namun, ada hal mendasar yang sering menjebak orang tua selama proses mendidik Ananda. Mendidik anak ibarat membangun sebuah gedung tinggi yang memerlukan pondasi yang kokoh, agar apapun yang ada di atasnya dapat tegak berdiri dan melekat dengan tangguh.

Jebakan Mendidik Anak | TK di Bandung | TK di Pekanbaru | TK di Palembang | web3

 

Pondasi dalam mendidik anak itu bernama ‘Kesadaran yang Lurus”. Seringnya yang kita miliki sebaliknya, kesadaran-kesadaran yang dapat menjebak kita sebagai orang tua.

 

Mari kita bahas satu per satu kesadaran yang lurus itu.

1. Anak dihadirkan memang untuk menguji orang tua (mendidik kita), bukan untuk menyenangkan hati dan mengikuti keinginan orang tua meski itu baik menurut kita.

Ayah Bunda,

Al- Qur’an dengan jelas telah memberikan kita pengetahuan bahwa anak memang untuk menguji (seperti halnya ujian kehidupan lainnya, baik nyaman ataupun tak nyaman).

Apakah kita menjadikan pengetahuan ini sebagai kesadaran diri atau hanya sebatas informasi…?

Jika yang kita yakini bahwa anak harus bersikap manis, maka setiap kali ia ‘berulah’ yang terjadi adalah emosi diri yang menjadi-jadi. Demikian pula ketika ia berperilaku yang tak semestinya lalu dengan mudah kita ucapkan bahwa ia anak yang durhaka. Tidakkah kita yang sejatinya ‘durhaka’ kepada Tuhan? Sedemikian tegas Allah mengatakan bahwa anak-anak akan menjadi ujian lalu kita memperlakukannya sebagai hiburan…?

 

Bagaimana sikap orang tua yang cerdas dan meyakini bahwa anak adalah ujian…?

Sama seperti halnya ketika kita ujian di sekolah dulu, yang kita lakukan adalah : BELAJAR

Berapa lama belajarnya?

Sampai kita mampu menyelesaikan semua soal-soal ujian, mendapat pemahaman dan kemampuan lalu kita naik ke tingkatan kelas berikutnya.

Bersediakah kita melakukan hal yang sama dalam proses lulus ujian kepada soal yang bernama ‘anak’ ini…?

Lalu bagaimana dengan orang tua yang kok sepertinya tidak diuji oleh anak…?

Sama halnya ketika sekolah dulu, ada soal-soal ujian yang dengan mudah kita hadapi. Namun yang menjadi kunci adalah mudah atau sulitnya menghadapi ujian tergantung kemampuan diri. Kemampuan diri tak datang dengan sendirinya melainkan ada upaya (belajar dan berpikir mendalam).

Jebakan Mendidik Anak | TK di Bandung | TK di Pekanbaru | TK di Palembang | web

 

2. Mendidik anak sebagai bentuk pengabdian kepada Allah, bukan sebagai ajang perlombaan dengan orang tua lain.

Ayah Bunda,

Ini jebakan kedua yang sering mengganggu dalam proses mendidik Ananda.

Bukankah kita nanti akan ditanyai dan bertanggungjawab sendiri-sendiri. Saat itu yang diperiksa adalah kesungguhan dalam berupaya, bukan pada hasil.

 

Anak adalah jiwa yang sendiri, meski kita yang mengandung dan membesarkan, tak serta merta kita dapat membentuk mereka seperti adonan kue yang kita cetak menurut kehendak kita.

Allah menanyakan upaya-upaya dalam mendidik mereka (agar menjadi sholeh). Hasilnya akan seperti apa? Ini 100% hak prerogatif Allah. Namun, tak ada hasil tanpa kesungguhan upaya dan tak ada upaya yang ‘mengkhianati’ hasil.

Jebakan Mendidik Anak | TK di Bandung | TK di Pekanbaru | TK di Palembang | web2

 

3. Anak adalah benih kehidupan, jiwa yang juga punya keinginan, pemikiran dan alasan. Mereka bukan kertas kosong yang bisa kita lukis sesuka hati.

Ayah Bunda,

Benih kehidupan yang lahir putih bersih (tanpa dosa) ini bukanlah kertas kosong. Seringnya orang tua memperlakukan anak seperti ‘properti’ miliknya yang bebas ia kuasai.

Ayah Bunda, sadarkah kita bahwa ada ‘backing’ di balik jiwa mungil itu, tak lain adalah Allah…

Ketika sikap kita tak patut dalam proses mendidik (meski sering dengan alasan demi kebaikan anak), sejatinya kita sedang ‘melawan” Tuhan yang menitipkan anak kepada kita.

Ya, anak adalah titipanNya.

Terhadap jiwa yang dititipkan sejatinya kita tak bisa berbuat sesuka hati. Karena Sang memilik titipan akan meminta pertanggungjawaban atas segala sikap, upaya dan cara-cara yang kita pilih dalam membesarkan mereka.

Semestinya, setiap upaya dan ‘kesusahan’ yang kita lalui dalam mendidik dan membesarkan mereka membuat kita tersenyum puas dan lega di hadapan-Nya. Bukan menangisi kegagalan upaya dikarenakan kelirunya kesadaran sebagai orang tua.

 

Ayah Bunda,

Setidaknya 3 kesadaran ini yang bisa kita renungkan secara terus menerus selama proses mendidik Ananda. Agar terpilah dan terpilih cara-cara terbaik selama titipan Tuhan ini ada di tangan kita.

Tak ada orang tua yang tak mencintai anak-anak mereka. Namun, maukah kita mencintai dengan cara yang lebih baik? Cara yang berangkat dari lurusnya kesadaran, bukan cara yang didasari ego dan emosi diri.

Bagaimana kesadaran dan cara kita mendidik mereka akan menjadi pengetahuan awal bagi mereka kelak dalam membangun rumahtangga dan mendidik anak-anak mereka.

Tidakkah kita ingin mendengar :
Aku ingin memiliki keluarga dan mendidik anak-anakku kelak seperti yang dilakukan oleh Ibu Bapakku”.

Ataukah kita akan mendengar :

Aku tak ingin dan tak akan meniru Ibu Bapakku, cukup aku yang disakiti

Silakan dibagikan jika bermanfaat yha, Ayah Bunda… 🙂

======

Tips Parenting | TK di Bandung | TK di Pekanbaru | TK di Palembang

Comments

comments

Comments are closed.