MANAKAH CARA MENDIDIK ANAK YANG BENAR?  Menanamkan ataukah Menumbuhkan? (Ulasan Seminar Parenting TK Alifa Kids)

MENUMBUHKAN KEGEMARAN BELAJAR PADA ANAK (Tips untuk Para Pendidik)
14/12/2015
APAKAH ANAK KITA BENAR – BENAR SUDAH BELAJAR? (Memahami Makna Belajar yang Sebenarnya)
14/12/2015

 

Ayah Bunda,

Sampai kapankah orang tua mampu mengawasi anaknya?

Tentunya tidak selamanya ya, Ayah Bunda. Saat Ananda berusia remaja pastinya mereka sudah memiliki kehidupan sendiri. Lalu, bagaimana agar kelak mereka mampu hidup dan berjalan pada koridor yang benar tanpa diawasi?

 

“Menumbuhkan Budi Pekerti”, inilah kata kuncinya.

 

Menanamkan atau Menumbuhkan | TK di Pekanbaru | TK di Palembang | web

Bagaimana agar budi pekerti ini tumbuh, apa yang perlu dilakukan orang tua, persepsi apa yang perlu diluruskan…?

Berikut mindset yang dapat kami bagikan dari hasil belajar bersama Bapak BUKIK SETIAWAN, penulis buku Anak Bukan Kertas Kosong :

 

1. Pahami makna Budi Pekerti : KESADARAN untuk berperilaku baik secara terus menerus. Budi Pekerti dirusak bahkan dibunuh dengan adanya pola mendidik yang menghukum ataupun mengiming-imingi. Inilah pesan dari Ki Hajar Dewantara sejak puluhan tahun yang lalu.

 

2. Saat anak melakukan kesalahan, berikan KONSEKUENSI yang relevan dari kesalahannya itu, bukan menghukum apalagi mempermalukannya dan menyakiti jiwanya. Jika ia menumpahkan air, maka yang dilakukan adalah mengajaknya membersihkan air tanpa dimarahi. Memarahi lalu orang tua yang membereskan tumpahan air hanya akan melukai hatinya dan membuat ia tidak memahami tanggungjawab.

 

3. Hanya cara mendidik yang MENUMBUHKAN yang mampu melahirkan seorang anak yang tangguh dan siap menjalani kehidupannya di masa yang akan datang, bukan cara mendidik yang MENANAMKAN.

 

4. Mendidik dengan cara yang MENUMBUHKAN artinya melihat diri anak sebagai pribadi yang telah memiliki bibit unggul, yang membutuhkan lingkungan yang kondusif agar bibit itu tumbuh. Sedangkan mendidik dengan cara menanamkan artinya MEMAKSA seseorang untuk mengikuti apa yang orang tua inginkan dan merusak jati diri anak, karena ia dipandang sebagai kertas kosong yang bebas diisi apapun oleh orang dewasa.

 

5. OBROLAN adalah cara yang dapat dilakukan untuk mengasah Budi Pekerti anak. Bahas kesepakatan yang berlaku di keluarga. Kesepakatan bukan berarti hanya diisi oleh hal-hal yang menyenangkan hati orang tua semata. Lakukan refleksi, dengarkan pendapat anak, bercermin diri dan berempati terhadap reaksi mereka dan berikan DUKUNGAN.

 

6. Membentuk Budi Pekerti tidak dapat dalam waktu singkat, ia membutuhkan proses panjang, refleksi secara terus menerus. Namun jika sudah tertanam, maka ia akan bertahan dalam waktu yang lama. Orang tua dapat melakukan obrolan ini saat makan malam bersama atau saat sarapan.

 

7. Sadari, bahwa setiap anak istimewa, setiap keluarga pun istimewa, karena menganut nilai-nilai yang berbeda-beda. Perlu disadari bahwa dalam menyatukan nilai-nilai tersebut merupakan proses belajar. Artinya baik anak maupun orang tua WAJAR jika melakukan kesalahan, inilah proses.

 

8. Mendidik anak pada dasarnya adalah proses MENDIDIK DIRI SENDIRI. Orang tua yang terlalu banyak khawatir hanya akan membuat anak menjadi penakut dan peragu. Demikian juga dengan orang tua yang terlalu banyak mengkritik dan mengarahkan. Anak membutuhkan dukungan dan kalimat positif yang banyak.

 

Demikianlah mindset pendidikan yang MENUMBUHKAN. Jika Budi Pekerti sudah tumbuh dan mengakar dalam diri anak, maka ia akan mampu melakukan tindakan asertif, mampu membuat keputusan yang baik bagi dirinya, bahkan mampu memilih teman yang tepat dan meninggalkan teman yang membuatnya tidak nyaman dan terganggu.

===

Tips Parenting | TK di Pekanbaru | TK di Palembang

Comments

comments

Comments are closed.