Renungan untuk Ayah Bunda “JIKA ANAK BOLEH BERHARAP…” (Keluarga Bahagia)

KETAGIHAN MEMBACA. Koq bisa ya…?
20/10/2015
((( ANAK BUKAN KERTAS KOSONG )))
24/11/2015

 

Ayah Bunda,

Pernahkah melihat dua orang yang penuh kasih sayang di awal pernikahan. Lalu memimpikan kehadiran seorang anak di sisi mereka…?

Mereka berharap, dengan kehadiran makhluk kecil ini akan menyempurnakan kebahagiaannya.

 

Dengan izin Allah, harapan mereka dipenuhi, makhluk mungil kecil, lucu, polos dan tak berdosa itu hadir di tengah-tengah keluarga mereka.

Ya… mereka hadir atas pemintaan Ayah dan Bunda…

Mereka bahkan tak mampu memilih, pasangan mana yang hendak menjadi orang tuanya.

Dengan kepolosan dan kepasrahan, makhluk kecil ini melengkapi kebahagiaan keluarga itu.

Makhluk kecil ini pasrah… ikhlas…

Ikhlas bila ternyata pasangan yang mengharapkan kehadiran mereka belumlah pasangan yang dewasa…

anak trauma| TK di Pekanbaru | TK di Palembang | web

 

Lama kelamaan pasangan ini mulai kehabisan dan kehilangan stok cinta kasih diantara mereka berdua. Perbedaan… itu yang biasanya menjadi kambing hitam.

Padahal, tak pernah ada dua benda pun yang persis sama di dunia ini…

Bukankah karena perbedaan itu justru pasangan ini merasa tertarik, dan merasa bahwa akan ada yang melengkapinya…?

 

Perbedaan yang dipersalahkan ini dijadikan tameng untuk masing-masing membenarkan egonya. Ego semakin gemuk karena dipupuk dan diberi makan…

Lalu, makhluk mungil tadi yang menjadi sasaran. Dia ditarik diantara dua ego, dipaksa memilih, dipaksa terlibat dalam pusaran emosi negatif pasangan yang KEBETULAN orang tuanya.

 

Makhluk mungil ini kehilangan hak kasih sayang yang harusnya ia dapatkan…

Makhluk mungil ini dirusak ketenangan hatinya, diganggu jiwanya…

Makhluk mungil ini dirampas pemahaman dan pengalaman tentang kasih sayang, memahami dan empati yang semestinya ia dapatkan dan pelajari dari orang tuanya…

 

Ayah Bunda…

Untuk inikah kita menikah…?

Untuk inikah kita merayu Allah agar menitipkan seorang jiwa di keluarga kita…?

Untuk inikah kita berjuang mati-matian di dunia ini…?

Jika kita rela berjuang habis-habisan untuk kehidupan yang layak, mengapa kita tak rela untuk berjuang sekuat tenaga mempertahankan kualitas hubungan yang layak dengan pasangan…?

Bukankah itu sesuatu yang memang LAYAK untuk diperjuangkan..?

 

Jika kita rela bekerja dan menabung untuk masa dengan anak kita, kenapa kita tak rela bekerja keras untuk memperbaiki hubungan kita dengan pasangan, mempelajari ilmu pernikahan yang memang tak pernah ada sekolahnya…?

 

Hadiah termewah yang layak diberikan oleh orang tua kepada anaknya adalah menunjukan kebahagiaan lahir dan bathin antara kedua orang tuanya…

Kebahagiaan ini bukan barang gratisan, tapi ia perlu dikejar dan diraih…

 

Siapa yang bekerja…? Siapa yang meraih…?

Diri sendiri, karena perbaikan diri itu tak mensyaratkan orang lain atau pasangan…

Ada Allah yang Maha Membalas dan pasti menolong… tak akan ada perjuangan yang sia-sia..

 

Demi hari tua kita… demi anak-anak kita… dan demi pemenuhan JANJI kita dihadapan Allah saat menikah, bahwa akan berlaku sebaik-baiknya kepada pasangan.

 

Bukankah kita tak pernah berniat menikahi seseorang untuk kemudian menyakitinya…?

Mari perbaiki niat ini… mari kembali pada jalur yang mengantarkan kita sampai ke tujuan sesuai yang kita niatkan… “Keluarga yang Sakinah, Mawaddah, Warohmah”.

 

Moga suatu saat kita sempat mendengar ucapan manis dari anak-anak kita :

“Ayah… Bunda… terimakasih sudah mencukupkan kebutuhan hidupku…

Tapi aku benar-benar berterimakasih kepadamu karena telah menunjukan kepadaku tentang makna kehidupan keluarga yang Bahagia…. keluarga yang diselimuti ketentraman walau apapun yang terjadi.

Ini bekalku dalam membentuk keluargaku nanti…

Terimakasih… aku belajar bukti nyata ini darimu, Ayah Bunda…”

 

*with tears… for parents

 

Tips Parenting | Pernikahan | TK di Pekanbaru | TK di Palembang

Comments

comments

Comments are closed.