ALIFA KIDS SEKOLAH RAMAH ANAK (Mendidik Dengan Kasih Sayang Bukan Kekerasan)

MENJADIKAN KESALAHAN SEBAGAI MOMEN BELAJARNYA
23/11/2017
ALIFA KIDS HADIR SEPENUH HATI MENDAMPINGI TUMBUH KEMBANG ANANDA
29/11/2017

Ayah Bunda,

 

Tak jarang kita mendengar berita  perseteruan antara guru dan orangtua perihal perlakuan guru kepada anak. Hal ini mestinya menjadi bahan yang perlu kita pikirkan dan khawatirkan bersama. Memikirkan akar masalah dan mencari solusinya. Tidak terjebak dengan berdebatan-perdebatan yang hanya mempergemuk ego diri masing-masing.

 

Dalam hal ini, kami tim Alifa Kids memilih untuk mendampingi Ananda dengan kasih sayang serta penerapan Disiplin Positif.

 

Mendidik dengan kasih sayang berarti bersedia menjalankan prosesnya dengan kemampuan ikhlas, walau berbagai konsekuensi dan ujian akan ditempuh selama proses mendidik ini.

 

Melalui konsep disiplin positif kami menyadari bahwa disiplin itu sendiri adalah sebuah pembelajaran, sehingga diperlukan proses panjang. Disiplin bukanlah bentuk penghukuman, sehingga harus dijalankan dengan kasih sayang pada saat yang bersamaan, tak melukai baik secara fisik ataupun non fisik.

 

Seorang pendidik semestinya mengambil posisi sebagai teladan dan menjadi fasilitator, bukan diktator. Mestinya mengajar, bukan menghajar.

 

Jika anak didik yang belum mampu bersikap baik dilihat sebagai pelaku, maka sikap yang muncul dari guru adalah menghukum.

 

Namun jika mereka dilihat sebagai korban, maka sikap yang muncul adalah empati dan berpikir mendalam untuk mencarikan solusi serta komunikasi yang positif diantara pendidik dan anak didik.

 

Bukankah setiap anak dilahirkan putih bersih?

 

Namun mereka bukan kertas kosong yang bisa dicoret sekehendak hati orang dewasa.

 

Orang dewasalah yang semestinya mengambil peran menumbuhkan kesadaran positif agar yang muncul adalah perilaku positif.

 

“Jika yang dipunya hanya palu, maka semua yang nampak akan dianggap sebagai paku”

 

Sebagai pendidik, kami menyadari dan sepakat bahwa profesi ini bukanlah profesi transaksional, profesi sampingan ataupun profesi menuntut penghargaan / penghormatan.

 

Menjadi seorang pendidik adalah pilihan dan panggilan jiwa sebagai pengabdi. Bukan mengabdi kepada anak dan orangtua, namun pengabdian utuh kepada Allah SWT.

 

Tak banyak jiwa yang terpilih, tak banyak hati yang terpanggil untuk setuju menjalani peluang menjemput pahala ini. Pahala yang mengalir dari ilmu yang bermanfaat dan dari doa anak yang dididik menjadi sholeh semestinya menjadi ‘penjaga’ agar setiap pendidik mampu selalu bertahan di koridor yang benar.

 

Profesi mulia ini tak layak dirusak dengan ego diri ataupun ketidaktahuan yang membawa seorang pendidik terjebak dalam sikap-sikap  yang justru tak terdidik. Betapa merugi jika Allah menyediakan sedemikian peluang kebaikan namun dirusak dengan proses yang justru melukai fisik dan non fisik anak didik.

InsyaAllah,

 

Kami tim Alifa Kids berkomitmen dan berupaya keras menjaga komitmen untuk selalu menciptakan  sekolah yang ramah anak. Dengan menghidupkan kesadaran bahwa inilah peluang kami sampai di Surga-Nya, Aamiin.

 

Kepada para orangtua

 

Kami mengharapkan kita selaku orang dewasa bersedia untuk terus menambah ilmu dan kesadaran positif dalam mendidik Ananda.

 

“It takes a village to raise a child”

 

(Diperlukan orang satu kampung untuk membesarkan seorang anak).

 

Mustahil itu hanya dilakukan oleh guru atau hanya dilemparkan ke orangtua. Sikap terbaik adalah adanya kerjasama dan komunikasi yang positif dalam mendidik Ananda kita.

 

Ayah Bunda,

 

Sehari-hari kami menghadapi puluhan Ananda, kami harapkan pengertiannya jika ada sikap kami yang tidak berkenan. Dengan hati dan pikiran terbuka kami menerima masukan positif dari Ayah Bunda, demi kebaikan Ananda di masa depan.

 

Anak-anak kita akan bertanggungjawab mengurus negara ini kedepannya. Apa jadinya jika mereka dididik dengan ala kadarnya. Mendisiplinkan dengan kekerasan, entah itu di rumah maupun di sekolah.

 

Kekerasan memang bisa menyelesaikan masalah, namun hanya untuk saat itu. Dampak buruk jangka panjangnya jauh lebih berbahaya. Anak akan memperlakukan orang lain sebagaimana dulu ia diperlakukan. Muncul trauma dan rasa rendah diri selama mereka hidup.

 

Ayah Bunda,

 

Semoga kita juga bisa sepakat bahwa mendidik jiwa titipan Tuhan ini membutuhkan suplai Kasih Sayang yang berlimpah. Tegas tapi tak boleh keras apalagi menghukum. Anak perlu dikenalkan konsekuensi yang relevan dari perbuatannya, bukan menghakimi dan menghukum.

Comments

comments

Comments are closed.