SUDAHKAH KITA MENJADI TELADAN? (Sebuah Otokritik, Memantik Perubahan)

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Sejatinya, yang kita jalani ini adalah sebuah pilihan hidup yang Mulia.
Namun sudahkah jelas kemuliaan seperti apa yang menjadi cita-cita?
Sudahkah diupayakan dengan cara-cara yang juga mulia?

Sejatinya, kebutuhan dasar Ananda adalah dilimpahi Teladan.
Namun, sudahkah yang mereka dapatkan teladan atau hanya sebatas hujan ucapan?

Karena menjadi pendidik artinya memberikan atmosfer, ruang udara yang dihirup dan mengalir ke dalam “darah” Ananda.

Udara macam apa yang kita sediakan?
Udara bersih atau kotor? Atau jangan-jangan udara beracun?

Mendidik sejatinya untuk membangun peradaban.
Namun, sejauh ini sudahkah melangkah kepada peradaban yang beradab?

Menjadi Guru, bukan sebatas kerja menghabiskan waktu.
Menjadi Guru, ada sebuah cita Mulia yang dituju.
Cita Mulia yang selaras dengan apa yang Tuhan mau.
Bukan sebatas menjadi pelengkap Industri atau “for the sake of economy”.

Menjadi Guru, mungkin sebuah perjalanan sepi demi mengisi akalbudi.
Menjadi Guru, sejatinya pilihan untuk rela mengabdi.
Menjadi Guru, berarti tabah mendidik diri hingga mati.

Selamat Hari Guru, selamat berbenah dari dari “dapur” kita sendiri-sendiri.